Senin, 15 November 2010

GAGAL GINJAL KRONIK

BAB I
PENDAHULUAN

I.Latar Belakang
Ginjal merupakan organ tubuh paling penting dalam tubuh dan berfungsi untuk membuang sampah metabolisme dan racun tubuh dalam bentuk urin/air seni, yang kemudian dikeluarkan dari tubuh.
Gagal ginjal adalah keadaan penuruna fungsi ginjal, penimbunan racun dan sampah metabolisme. Berat ringannya gejala tergantung kerusakan ginjal yang terjadi.
Gagal ginjal akan menimbulkan gejala yang disebut sindrom uremi, berupa : mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit kepala, lemah, sering amsuk angin, sesak nafas, kembung, diare, pada keadaan berat sering terdapat penurunan kesadaran disertai kejang-kejang.
Penatalaksanaan gagal ginjal dengan :
Konservatif : diet, obat-obatan dan kontrol teratur.
Terapi ginjal pengganti (TGP) : dilakukan bila cara konservatif tidak berhasil yaitu dengan cangkok ginjal.
Gagal ginjal adalah ketidakmampuan ginjal untuk mengeluarkan pembuangan, membersihkan urine dan emnghemat elektrolit. Ini bisa terjadi dengan tiba-tiba dalam merespon perfusi yang tidak adekuat. Azotemia dan uremia adalah faktor yang sering dihubungkan dengan gagal ginjal. Azotemia adalah pengumpulan pembuangan nitrogen dalam darah. Uremia adalah kondisi yang lebih lanjut yang menyimpan nitrogen yang menghasilkan racun. Azotemia tidak mengancam hidup, sedangkan uremia adalah kondisi yang serius yang sering melibatkan sistem tubuh yang lain. Gagal ginjal dibagi 2 : gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronik.
Gagal ginjal kronik adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut. Hal ini terjadi apabila laju filtrasi glomerular (LFG) kurang dari 50 mL/menit.
(Suhardjono, dkk, 2001)
II.Batasan dan Perumusan Masalah
Pada penyusunan makalah ini penulis hanya melakukan Asuhan Keperawatan pada anak dengan kasus Gagal Ginjal Kronik.

III.Tujuan
1.Tujuan Umum
Setelah membaca makalah ini mahasiswa dapat menerapkan Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal Kronik dengan benar.
2.Tujuan Khusus
1.Mahasiswa dapat memahami Anatomi Fisiologi Ginjal dengan benar.
2.Mahasiswa dapat memahami Definisi Gagal Ginjal dengan benar.
3.Mahasiswa dapat memahami Etiologi Gagal Ginjal dengan benar.
4.Mahasiswa dapat memahami Manifestasi klinis Gagal Ginjal dengan benar.
5.Mahasiswa dapat menjelaskan Patofisiologi Gagal Ginjal dengan benar.
6.Mahasiswa dapat menjelaskan Pathway Gagal Ginjal dengan benar.
7.Mahasiswa dapat menjelaskan Pemeriksaan diagnostik Gagal Ginjal dengan benar.
8.Mahasiswa dapat menerapkan Penatalaksanaan Gagal Ginjal dengan benar.
9.Mahasiswa dapat memberikan Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal dengan benar.

IV.Manfaat
Makalah gagal ginjal kronik akan memberikan pengetahuan dan wawasan kepada mahasiswa keperawatan sehingga dalam penerapannya dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien anak gagal ginjal kronik dengan benar.



V.Sistematika
Sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I: Pendahuluan
1.Latar Belakang
2.Pembatasan dan Perumusan masalah
3.Tujuan
4.Manfaat
5.Sistematika penulisan
BAB II : Tinjauan Pustaka / Teori
1.Anatomi dan fisiologi
2.Definisi penyakit
3.Etiologi
4.Manifestasi klinis
5.Patofisiologi
6.Pathway
7.Pemeriksaan diagnostik
8.Penatalaksanaan
9.ASKEP
BAB III : Penutup
Kesimpulan


BAB II
TINJAUAN TEORI

A. ANATOMI FISIOLOGI
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen terutama didaerah lumbal, disebelah kanan dan kiri tulang belakang, dibungkus lapisan lemak yang tebal, dibelakang peritoneum atau diluar rongga peroitoneum. Ketinggian ginjal dapat dieprkirakan dari belakang mulai dari ketinggian vertebra torakalis sampai vertebra lumbalis ketiga. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari kiri karena letak hati yang menduduki ruang lebih banyak disebelah kanan.
(Nursalam,1006)
Ginjal merupakan organ ganda yang terletak didaerah abdomen, retroperitoneal antara vertebra lumbal 1 dan 4. Seluruh traktus urinarius ialah ginjal, ureter dan kandung kemih semua terletak didaerah retroperitoneal.
Ginjal terdiri dari korteks dan medula. Tiap ginjal terdiri dari 8-12 lobus yang berbentuk piramid. Dasar piramid terletak di korteks dan puncaknya yang disebut papila bermuara di kaliks minor. Pada daerah korteks terdapat glomerulus, tubulus kontortus proksimal dan distal. Daerah medula penuh dengan percabangan koligens. Satuan terkecil ginjal disebut nefron. Tiap ginjal mempunyai kira-kira 1 juta nefron. Nefron terdiri atas glomerulus, kapsula Bowman, tubulus kontortus proksimal, ansa Henle dan tubulus kontortus distal. Ujung nefron ialah tubulus kontortus distal bermuara di duktus koligens.
Nefron kortikal terletak didaerah korteks sedangkan nefron yang terletak diperbatasan dengan medula disebut nefron juksta medular. Nefron juksta medular mempunyai ansa Henle yang lebih panjang yang berguna terutama pada ekskresi air dan garam. Sebagian dari tubulus distal akan bersinggungan dengan arteriol aferen dan eferen pada tempat masuknya kapsula Bowman. Ditempat ini sel tubulus distal menjadi rapat, intinya lebih tegas disebut makula densa. Dinding arteriol aferen yang bersinggungan mengalami perubahan dan mengandung granula yang disebut renin. Daerah ini merupakan segitiga dengan batas-batas pembuluh eferen, aferen dan makula densa, disebut aparat juksta-glomerular.
(Ngastiyah,1997)

Gambar Anatomi Ginjal
Fungsi ginjal
1.Sebagai tempat mengatur air
2.Sebagai tempat mengatur konsentrasi garam dalam darah.
3.Sebagai tempat mengatur keseimbangan asam-basa darah
4.Sebagai tempat ekskresi dan kelebihan garam.

Sekresi urine dan mekanisme kerja ginjal
Glomerulus berfungsi sebagai saringan. Setiap menit, kira-kira satu liter darah yang mengandung 500cc plasma mengalir melalui semua glomerulus dan sekitar 100cc (10%) disaring keluar. Plasma yang berisi semua garam, glukosa dan benda lainnya disaring. Namun, sel dan protein plasma terlalu besar untuk dapat menembus pori saringan dan tetap tinggi dalam darah. Cairan yang disaring, yaitu filtrat glomerulus, kemudian mengalir melalui tubulus renalis dan sel-selnya menyerap semua bahan yang diperlukan tubuh serta membuang yang tidak diperlukan.
Dalam keadaan normal, semua glukosa dan sebagian besar air diabsorbsi kembali, sedangkan produk buangan dikeluarkan. Faktor yang mempengaruhi sekresi adalah filtrasi glomerulus, reabsorbsi tubulus dan sekresi tubulus.

Jumlah yang disaring dan dikeluarkan gloemrulus setiap hari
No Bahan Disaring Dikeluarkan
Air
Garam
Glukosa
Urea 150 liter
1.700 gram
170 gram
50 gram 11/2 liter
15 gram
0 gram
30 gram
(Nursalam,2006)

Ginjal adalah organ kecil tetapi penting karena mempunyai fungsi yang kompleks dan bekerja secara otomatis. Namun biarpu kecil, ginjal berfungsi menghilangkan air, sisa-sisa kotor, atau sampah dan racun hasil metabolisme yang berlebihan didalam tubuh, membantu mengatur tekanan darah, mengatur keseimbangan kimia dalam tubuh, memelihara tulang agar tetap kuat, memberi perintah kepada tubuh untuk membuat sel darah merah dan menolong anak-anak tumbuh dengan normal. Karena fungsinya yang demikian kompleks dan penting, salah satu saja fungsinya tidak dapat dilakukan, ginjal bisa dianggap gagal dan mempunyai akibat yang menyengsarakan dan berlarut-larut.
(www.yastroki.or.id)

B. DEFINISI PENYAKIT
Gagal ginjal kronik adalah akibat kerusakan permanen nefron oleh semua penyakit ginjal berat.
(John Gibson, 2003)
Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persistren dan irreversibel.
(Mansjoer, 2000)
Gagal ginjal kronik adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal).
(Nursalam, 2006)
Gagal ginjal kronik adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut. Hal ini terjadi apabila laju filtrasi glomerular (LFG) kurang dari 50 mL/menit.
(Suhardjono, dkk, 2001)
Insufisiensi ginjal kronik atau kegagalan dimulai ketika ginjal tidak bisa memelihara kimia normal cairan tubuh dibawah kondisi normal. Kemunduran secara progresif lebih dari periode bulan atau tahun menimbulkan keanekaragaman klinis dan gangguan biokimia yang akhirnya mencapai puncak dari sindrom klinis disebut uremia.
(Whaley & Wong, 2002)
Gagal ginjal kronis aatu penyakit renal tahap akhir merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain lain dalam darah).
(Brunner & Suddarth, 2002)

C.ETIOLOGI
Penyebab gagal ginjal kronik :
oGlomerulonefritis kronik
oDiabetes melitus
oHipertensi
oBatu ginjal
oObat-obatan
(www.rsi.co.id)
Keanekaragaman penyakit bisa menghasilkan gagal ginjal kronis. Penyebab yang paling sering adalah penyakit ginjal bawaan dan sistem perkemihan yang cacat, refluks vesicoureteral yang dihubungkan dengan infeksi sistem perkemihan yang kambuh, pielonefritis kronik, penyakit keturunan, glomerulonefritis kronik dan glomerulopathi dihubungkan dengan penyakit sistemik seperti anaphylactoid purpura dan lupus eritematosus. Penyakit pembuluh ginjal seperti sindrom hemotitik-uremi, pembuluh trombosis dan kortikel nekrosis adalah penyebab yang paling sering.
(Wong & Whaley’s, 2000)

D.MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari gagal ginjal kronik :
1.Gastrointestinal: ulserasi saluran pencernaan dan perdarahan.
2.Kardiovaskuler: hipertensi, perubahan elektro kardiografi (EKG), perikarditis, efusi pericardium dan tamponade pericardium.
3.Respirasi: edema paru, efusi pleura, dan pleuritis.
4.Neuromuskular: lemah, gangguan tidur, sakit kepala, letargi, gangguan muskular, neuropati perifer, bingung dan koma.
5.Metabolik / endokrin: inti glukosa, hiperlipidemia, gangguan hormon seks menyebabkan penurunan libido, impoten dan amenor.
6.Cairan-elektrolit: terjadi ketidakseimbangan antara lain :
oKetidakseimbangan cairan
Kelebihan cairan: edema, oligori, hipertensi, gagal jantung kongestif.
Penipisan volume vaskuler: poliuri, penurunan asupan cairan, dehidrasi.
oKetidakseimbangan elektrolit
Hiperkalemia: gangguan irama jantung, disfungsi miokardial.
Hipernatremia: haus, stupor, takikardi, membran kering, peningkatan reflrk tendon profuda, penurunan tingkat kesadaran.
Hipokalemia dan hiperfosfatemia: iritabilitas, depresi, kram otot, parastesia, psikosis, tetani.
Hipokalemia: penurunan reflek tendon profunda, hipotonia, perubahan EKG
7.Dermatologi: pucat, hiperpigmentasi, pluritis, eksimosis dan uremia frost.
8.Abnormal skeletal: osteodistrofi ginjal menyebabkan osteomalasia.
9.Hematologi: anemia, defek kualitas platelet dan perdarahan meningkat.
10.Fungsi psikososial: perubahan kepribadian dan perilaku serta gangguan proses kognitif.
(Nursalam, 2006)

E.PATOFISIOLOGI
Fungsi renal menurun karena produk akhir metabolisme protein tertimbun dalam darah, sehingga mengakibatkan terjadinya uremia dan mempengaruhi seluruh system tubuh. Semakin banyak timbunan produksi sampah maka gejala semakin berat.
Gangguan clearanse renal terjadi akibat penurunan jumlah glomerulus yang berfungsi. Penurunan laju filtrasi glomerulus dideteksi dengan memeriksa clearanse kreatinin urine tampung 24 jam yang menunjukkan penurunan clearance kreatinin dan peningkatan kadar kreatinin serum.
Retensi cairan dan natrium dapat mengakibatkan edema, CHF, dan hipertensi. Hipotensi dapat terjadi karena aktivitas aksis renin angitensin dan kerja sama keduanya meningkatkan sekresi aldosteron. Kehilangan garam mengakibatkan resiko hipotensi dan hipovolemia. Muntah dan diare menyebabkan perpisahan air dan natrium sehingga status uremik memburuk.
Asidosis metabolik akibat ginjal tidak mampu mensekresi asam (H+) yang berlebihan. Penurunan sekresi asam akibat tubulus ginjal tidak mampu mensekresi ammonia (NH3-) dan mengabsorbsi natrium bikarbonat (HCO3-). Penurunan ekskresi fosfat dan asam organik lain terjadi.
Anemia terjadi akibat produksi eritropoietin yang tidak memadai, memendeknya usia sel darah merah, defisiensi nutrisi, dan kecenderungan untuk mengalami perdarahan akibat status uremik pasien, terutama dari saluran penceranaan. Eritropoitein yang diproduksi oleh ginjal, menstimulasi sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah merah, dan produksi eritropoitein menurun sehingga mengakibatkan anemia berat yang disrtai keletihan angina, dan sesak nafas.
Ketidakseimbangan kalsium dan fosfat merupakan gangguan metabolisme. Kadar serum kalsium dan fosfat tubuh memiliki hubungan timbal balik. Jika salah satunya meningkatr, maka fungsi yang lain akan menurun. Dengan menurunnya filtrasi melalui glomerulus ginjal, maka meningkatkan kadar fosfat serum dan sebaliknya, kadar serum kalsium menurun. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi parathormon dan kelenjar paratiroid. Tetapi, gagal ginjal tubuh tidak merespon normal terhadap peningkatan sekresi parathormon, sehingga kalsium ditulang menurun, menyebabkan terjadinya perubahan tulang dan penyakit tulang. Demikian juga, vitamin D (1,25 dihidrokolekalsiferol) yang dibentuk diginjal menurun seirng perkembangan gagal ginjal.
(Nursalam, 2006)
KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin timbul akibat gagal ginjal kronis antara lain :
1. Hiperkalemia
2. Perikarditis, efusi perikardialdan tamponade jantung
3. Hipertensi
4. Anemia
5. Penyakit tulang
(Brunner & Suddarth, 2002)

F. PATHWAY
Terlampir.

G. EVALUASI DIAGNOSTIK
Evaluasi diagnostik
1. Hitung darah lengkap (HDL) untuk mengetahui anemia.
2. Penurunan serum protein/albumin < 60 Eq/menit. 3. Gangguan gas darah arteri menyebabkan penurunan pH < 5,3, CO2, dan HCO3 (bikarbonat). (Nursalam, 2006) Pemeriksaan penunjang pada gagal ginjal kronik : o Pemeriksaan laboratorium Dilakukan untuk menetapkan adanya GGk, menentukan ada tidaknya kegawatan, menentukan derajat GGK, dan membantu menetapkan etiologi. o Pemeriksaan EKG Untuk melihat kemungkinan hipertrofi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis, aritmia, dan gangguan elektrolit. o Ultrasonigrafi (USG) Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan parenkim ginjal, kandung kemih serta prostat. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mmencari adanya faktor yang reversibel seperti obstruksi oleh karena batu atau massa tumor. o Foto polos abdomen Sebaiknya tanpa puasa, karena dehidrasi akan memperburuk fungsi ginjal. (Suhardjono, dkk, 2001) H. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaannya adalah :
1.Memperlambat progresi gagal ginjal.
o Pengobatan hipertensi.
o Pembatasan asupan protein untuk mengurangi hiperfiltrasi glomerulus.
o Restriksi fosfor, untuk mencegah hiperparatiroidisme sekunder.
o Mengurangi proteinuria.
o Mengendalikan hiperlipidemia.
2. Mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut
3. Pengelolaan uremia dan komplikasinya
(Suhardjono, dkk, 2001)

Pengobatan pada gagal ginjal kronis terutama untuk menghambat laju kegagalannya agar tidak sampai terjadi gagal ginjal terminal atau ginjal tidak berfungsi lagi. Disini pengobatan harus dibantu oleh disiplin ketat penderita. Bila ingin berolahraga, pencapaian target tidak ditentukan. Jenis olahraga yang boleh dilakukan hanya yang ringan seperti berjalan kaki dan berenang secukupnya.
Selain itu tekanan darah harus dinormlakan, gula darah dikendalikan, serta antibiotika diberikan secara tetap bila terjadi infeksi. Infeksi seringkali terjadi gara-gara tumbuh batu, khususnya pada saluran kemih. Hati-hati bila salah satu ginjal mengalami infeksi, harus segera diatasi sebab mudah menular pada yang masih sehat.
Proses hemodialisa baru dilakukan bila ginjal hampir tidak berfungsi lagi (kadar kreatinin kurang dari 5 ml/menit, kedua ginjal sudah mengecil, serta fungsinya dibawah 5%). Ada dua macam cara cuci darah yakni hemodialisis yang harus dilakukan dirumah sakit secara teratur (2-3 kali/minggu) atau CAPD (dialiasis peritoneal kronik) yang dapat dilakukan sendiri dirumah. Namun, yangkedua ini jarang dilakukan karena sering menimbulkan komplikasi.
Yang utama perlu diupayakan penderita gagal ginjal kronik adalah diet ketat rendah protein dengan kalori cukup. Pemilihan makanan secara ketat untuk mencegah terjadinya atau berlanjutnya komplikasi gagal ginjal. Tapi cukup energi untuk kegiatan sehari-hari serta bobot badan normal perlu diperhatikan.
(www.indomedia.com)
Beberapa jenis terapi pengganti ginjal, yaitu :
1. Hemodialisis (HD = cuci darah)
Pada hemodialisis darah dipompa keluar dari tubuh lalu masuk kedalam mesin dialiser (yang berfungsi sebagai ginjal buatan) untuk dibersihkan dari zat-zat racun melalui proses difusi dan ultrafiltrasi oleh cairan khusus untuk dialisis. Setelah dibersihkan, darah dialirkan kembali kedalam tubuh.
2. Dialisis Peritoneal (cuci darah lewat perut)
Disini proses “cuci darah” dilakukan didalam tubuh melalui selaput/membran peritoneum (selaput rongga perut)
Dialisis peritoneal diawali dengan memasukkan cairan dialisis kedalam rongga perut melalui selang kateter yang telah ditanam dalam rongga perut. Tekhnik ini memanfaatkan selaput rongga perut untuk menyaring dan membersihkan darah. Ketika cairan dialisis berada dalam rongga perut, zat-zat racun didalam darah akan dibersihkan, juga kelebihan air akan ditarik.
Proses dialisis peritoneal ini tidak menimbulkan rasa sakit dan hanya membutuhkan waktu yang singkat, terdiri dari 3 langkah : memasukkan dialisat (cairan dialisis) berlangsung selama 10 menit; waktu tinggal yaitu dimana sesudah cairan dimasukkan, cairan dibiarkan dalam rongga perut untuk selama periode tertentu (5-6 jam); mengelurkan cairan yang berlngsung selama 20 menit.
3. Transplantasi ginjal (pencangkokan)
Penurunan semua fungsi ginjal akan diikuti penimbunan sisa metabolisme protein, gangguan asam basa dan elektrolit.
(www.suara merdeka.com)

PATHWAY GAGAL GINJAL KRONIK
I. ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
o Aktivitas/Istirahat
Gejalanya adalah kelelahan, malaise, gangguan tidur ditandai dengan kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.
o Sirkulasi
Gejalanya adalah riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi, nyeri dada, ditandai dengan hipertensi, nadi kuat, oedema jaringan umum, disritmia jantung, nadi lemah halus, hipotensi ortostatik menunjukkan hipovolemia, pucat, kulit coklat kehijauan, kuning, kecenderungan perdarahan.
o Integritas Ego
Gejalanya adalah faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan ditandai dengan menolak, ansietas, takut, mudah tersinggung, perubahan kepribadian.
o Eliminasi
Gejalanya adalah penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria, abdomen kembung, diare atau konstipasi ditandai dengan perubahan warna urine contoh kuning pekat, merah, coklat, berawan, oliguria, dapat menjadi anuria.
o Makanan/cairan
Gejalanya adalah oedema, malnutrisi, anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah ditandai dengan distensi abdomen/asites, pembesaran hati, perubahan turgor kulit, ulserasi gusi, penurunan otot, penurunan lemak subkutan, peampilan tak bertenaga.
o Neurosensori
Gejalanya adalah sakit kepala, penglihatan kabur, kejang, kesemutan ditandai dengan gangguan status mental, kejang, fasikulasi otot, rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.
o Pernafasan
Gejalanya adalah nafas pendek, dispnea noktural paroksimal, batuk dengan atau tanpa sputum ditandai dengan takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi pernafasan kusmaul, batuk produktif edngan produksi sputum merah muda.
o Nyeri/kenyamanan
Gejalanya adalah nyeri panggul, sakit kepala, kram/nyeri kaki ditandai distraksi, gelisah.
o Keamanan
Gejalanyaadalah kulit gatal, ada atau berulangnya infeksi ditandai dengan pruritus, demam (sepsis, dehidrasi), peteki, area ekomosis pada kulit, fraktur tulang, defesi fosfat kalsium pada kulit, jaringan lunak, sendi, keterbatasan gerak sendi.
o Seksualitas
Gejalanya adalah penurunan libido, amenore, infertilitas.

Diagnosa Keperawatan
Gagal Ginjal Kronik
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan edema.
2. Kelelahan berhubungan dengan anemia.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan oedema.
4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan penurunan fungsi paru
5. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
6. Resti infeksi berhubungan dengan penurunan im


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Gagal ginjal kronik adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut. Hal ini terjadi apabila laju filtrasi glomerular (LFG) kurang dari 50 mL/menit.
Gangguan ginjal dalam tahap ringan masih dapat diatasi dengan minum banyak air putih. Kurang minum air putih ternyata dapat mengganggu fungsi ginjal. Namun, kalau sudah gagal ginjal, hanya bisa diatasi dengan cuci darah ataua cangkok ginjal yang biayanya sangat mahal.
Organ ginjal meskipun ukurannya kecil bersifat sangat vital. Ginjal berfungsi untuk menjaga keseimbangan serta mengatur konsentrasi dan komposisi cairan didalam tubuh. Ginjal juga berfungsi untuk membersihkan darah dan berbagai zat hasil metabolisme serta racun didalam tubuh. Sampah dari dalam tubuh tersebut akan diubah menjadi air seni (urin). Air seni diproduksi terus menerus diginjal, lalu dialirkan melalui saluran kemih dikandung kemih. Bila cukup banyak urin didalam kandung kemih, maka akan timbul rangsangan untuk buang air kecil. Jumlah urin yang dikeluarkan setiap hari sekitar 1-2 liter. Selain itu, ginjal juga berperan untuk mempertahankan volume dan tekanan darah, mengatur kalsium pada tulang, mengatur produksi sel darah merah, dan menghasilkan hormon seperti erytropoetin, renin, dan vitamin D.
Gagal ginjal dapat diterapi dengan jalan hemodialisis (cuci darah). Dialisis adalah proses pemisahan (penyaringan) sisa-sisa metabolisme melalui selaput semipermiabel dalam mesin dialiser. Darah yang sudah bersih kemudian dipompa kembali kedalam tubuh. Cuci darah bisa dilakukan dirumah sakit atau klinik yang memilki unit hemodialisis. Frekuensi cuci darah bergantung pada kondisi klien.

DAFTAR PUSTAKA


Brunner & Suddarth. (2002). “Keperawatan Medikal Bedah”. Edisi 8 Volume 2, ECG: Jakarta.
Doengoes, E. M. (2000). “Rencana Asuhan Keperawatan”. Edisi 3, EGC : Jakarta.
Gibson, J. (2003). “Fisiologi & Anatomi Modern Untuk Perawat” Edisi 2, EGC: Jakarta.
Hudek, Gallo. (1996). “Keperawatan Kritis” Edisi 6, Volume 8. EGC: Jakarta.
Mansjoer, dkk. (2000). “Kapita Selekta Kedokteran” Edisi 3, Media aesculapius ; Jakarta.
Ngastiyah. (1997). “Perawatan Anak Sakit”. EGC: Jakarta.
Nursalam. (2006). “Askep Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan”. Salemba: Jakarta.
Suhardjono, dkk. (2001). “Ilmu Penyakit Dalam” Edisi 2, FKUI: Jakarta.
Whaley & Wong’s. (2000). “Essentials Of Pediatric Nursing” Fourth Edition, EGC: Jakarta.
Wong & Whaley’s. (2002). “Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik” Edisi 4, EGC: Jakarta.
www.suaraberita.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar